Tips Untuk Anak Kita Supaya Mau Ngaji TPQ

Saat usia TK, anak saya saat itu ngaji level ringan saja, diajar istri saya bakda magrib. Pakai metode Nahdliyah. Kadang sambil senyum, tapi lebih sering nangis. Hahaha. Karena ingin agar anak bisa bersosialisasi dengan rekan sebaya dan punya pengalaman diajar selain orangtuanya, saya berniat memasukkannya ke TPQ.

Ndilalah, Avisa nggak mau mengaji di TPQ. Saya dan istri mengajaknya ke beberapa lembaga untuk sekadar survei, dia malah nangis. Saya rayu juga nggak mempan. Mau marah, kasihan. Dipaksa pun juga bukan solusi terbaik untuk anak usia TK. Saya sadar, anak saya tidak sehebat anak orang lain yang di usia TK sudah pinter mengaji. Hafal surat A, B, C dan seterusnya.

Sebagai orangtua, tentu agak khawatir juga kalau dia mogok ngaji sampai usia MI.

Yang pertama saya lakukan adalah meminta istri saya merayunya. Menceritakan bahwa ngaji TPQ itu asyik, banyak teman, punya guru baru, dapat uang saku, dan hadiah dari ayah jika naik level. Tidak perlu marah-marah, tidak usah pakai paksaan. Cukup membujuknya.

Langkah kedua, mengajak Avisa ke salah satu TPQ. Cukup berdua, anak dan ibu, ayah tidak usah terlibat. Main “rahasia-rahasiaan”, demikian istilah Avisa dan ibunya. Mereka berdua ke TPQ di depan tempat tinggal saya di Surabaya, seolah-olah dengan “sembunyi-sembunyi”. Cara ini dipakai untuk mengikat emosional anak dengan ibunya dan menanamkan kepercayaan anak kepada ibunya.

Saya percaya, anak cewek lebih asyik berdekatan dengan ibunya soal urusan perasaan, tapi kalau pembentukan karakter, ayah lebih dominan (setidaknya ini bisa kita pelajari dari QS. Luqman 12-19 dimana Luqman berdialog dan menanamkan karakter kuat pada anaknya, maupun dialog antara Nabi Yusuf dengan Nabi Ya’qub dalam Surat Yusuf).

Ketika Avisa sudah mulai memilih TPQ maka saya meminta istri agar mendampinginya selama ngaji. Proses pendampingan ini berlangsung selama tiga minggu hingga Avisa mulai nyaman berinteraksi dengan sahabat-sahabatnya. Kalau nangis, tidak usah dimarahi, cukup dipeluk dan disemangati. Dimaklumi saja.

Namanya juga anak kecil, butuh proses penyesuaian dengan lingkungan baru sebagaimana orang dewasa juga butuh penyesuaian di tempat kerja yang baru. Setiap anak punya kepribadian yang berbeda-beda. Ada yang tipikal interaktif-responsif, ada juga yang pendiam. Kalau tidak disesuaikan dengan tipenya, biasanya dia berontak, bisa juga depresi. Setidaknya bisa kita pelajari dari berbagai tipe kepribadian yang versi psikolog: plegmatis, melankolis, sanguinis, dan koleris.

Kalau sudah mulai nyaman dengan dunia barunya, kita biarkan anak lepas dengan tetap memantaunya. Setidaknya sekarang Avisa sudah sangat nyaman dengan dunia TPQ. Jangan lupa menanyakan perkembangan ngajinya. Sebab, guru hanya membantu perkembangan keilmuan anak-anak kita, adapun penguatan karakter tetap di tangan orangtua.

Ini hanya catatan pribadi saat membantu tumbuh kembang Avisa. Mungkin beda caranya ketika mendidik Ilkiya, anak kedua saya. Demikian pula dengan panjenengan. Setidaknya catatan ini menjadi sedikit solusi bagi orangtua yang anaknya belum mau ngaji di TPQ. (Tips Dari Mbah Rijal Rijaldo)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *